Harga Bawang Meronjak membenani rakyat

Headline
inilah.com
 

Jakarta – Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau (KPPU) mengendus indikasi kuat adanya permainan kartel importir bawang sehingga harga di dalam negeri menembus rekor tertinggi dalam sejarah, sedikitnya enam kali lipat dari harga normal.

Harga bawang mulai naik pesat sejak November tahun lalu dari harga normalnya antara Rp10.000-15.000 per kg. Harga di pasar lokal di Pulau Jawa saat ini mencapai antara Rp60.000 sampai Rp85.000 per kg.

Akibatnya, akhir-akhir ini masyarakat kembali dibuat cemas dengan melambungnya harga berbagai bahan pangan. Ini terjadi karena pemerintah tidak memiliki strategi dan kebijakan yang jelas di sektor pangan. Hal ini diperparah lagi dengan adanya sistem kuota impor yang tidak transparan, sehingga memicu terjadinya pat gulipat antara pejabat dan pengusaha penerima lisensi kuota impor yang merugikan rakyat.

“Kalau sistem kuota dihapuskan dan diganti dengan sistem tarif, dipastikan impor kita akan lebih kompetitif. Harga bahan pangan akan lebih murah dan terjangkau oleh rakyat kecil. Saat ini, yang terjadi bukan kenaikan harga, tapi telah lompatan harga atau price jump, pada harga kebutuhan pangan,” kata mantan Menko Perekonomian Dr Rizal Ramli .

Menurut ekonom senior itu, lompatan harga yang kini terjadi disebabkan bisnis pangan di Indonesia diatur dengan sistem kuota yang tidak transparan dan kompetitif. Pada prakteknya, pembagian kuota impor ini juga terjadi karena pat gulipat antara pejabat dan pengusaha.

Hal ini menjadi sumber pendapatan pejabat dan untuk kepentingan politik. Akibatnya negara dirugikan karena tidak memperoleh penerimaan yang semestinya. Sedangkan rakyat dirugikan karena harus membayar harga pangan lebih mahal daripada harga di luar negeri.

Dalam kaitan ini, KPPU sudah lama mengawasi pergerakan harga bawang yang sangat tidak biasa ini, dan sejak November lalu sudah turun ke lapangan melihat fenomena ini.

Ketua KPPU Nawir Messi, yang memimpin langsung tim investigasi bawang itu, menemukan di Pelabuhan tanjung Perak Surabaya terdapat sedikitnya 531 kontainer bawang putih eks China, yang tak kunjung dikeluarkan dari sana sehingga pasokan bawang langka.

Dari 531 kontainer, 109 kontainer sudah dinyatakan bebas masalah bea cukai dan mestinya segera dilepas ke pasar domestik. Sejak November, Desember, Januari sampai Februari dibiarkan di sana. “Indikasi adanya permainan tampak jelas. Ini yang mau kami tanyakan, apa motifnya,” terang Nawir.

Berbagai kalangan meminta Menteri Perdagangan untuk mengumumkan secara transaparan para penerima kuota impor, besarnya kuota yang diterima, dan keuntungan yang mereka peroleh dan menjadi bancakan dengan para pejabat dan para politisi. Mereka juga harus menjelaskan mengapa harga pangan di dalam negeri dua kali lebih mahal dibandingkan di luar negeri.

Yang tidak kalah pentingnya, menurut ekonom Rizal Ramli, semestinya Mendag juga harus mengganti sistem kuota yang merugikan negara dan rakyat, dengan sistem tarif yang lebih transparan dan efisien. Agar harga bawang kembali normal dan tidak menimbulkan keresahan sosial. [berbagai sumber]

Sumber : Inilah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s